Sabtu, 10 April 2010

Pertanyaan-Pertanyaan Ajaib

Pertanyaan dapat mengubah kehidupan. Ini yang saya rasakan. Pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri. “Change Your Question, Change Your Life”…

Berikut beberapa pertanyaan sikap mental yang saya dapatkan dari buku “Guide to Investing” terbitan GPU, karangan Robert TK :

1. Apakah Anda merencanakan untuk kaya atau untuk miskin?

2. Apakah Anda dengan cermat memperhatikan pikiran-pikiran kecil anda sendiri yang seringkali membisu itu?
3. Apakah Anda bersedia meluangkan waktu untuk meningkatkan kosakata finansial Anda ? Tujuan pertama menguasai suatu kosakata finansial baru adalah menjadikannya bisa dilakukan. Carilah sebuah kata baru, carilah artinya di dalam kamus, temukan lebih dari satu definisi untuk kata itu, dan ingatkan diri anda sendiri untuk menggunakan kata itu dalam suatu kalimat dalam satu pekan.

Kata-kata muncul dari pikiran, pikiran muncul dari realita dan realita menjadi kehidupan. Perbedaan utama antara orang kaya dan orang miskin ada pada kata-kata yang mereka gunakan. Jika ingin mengubah realita eksternal seseorang, perlu terlebih dahulu mengubah realita internal orang itu. Itu dilakukan pertama-tama melalui usaha mengubah, memperbaiki atau memperbarui kata-kata yang ia gunakan. Jika ingin mengubah kehidupan, pertama-tama ubahlah kata-kata. Dan untungnya, kata-kata itu gratis.

Yahh, saya pernah sharing juga sebelumnya. Kata-kata berpengaruh besar dalam kesuksesan, kebahagiaan.

Jumat, 09 April 2010

Mengoptimalkan Perkembangan Kecerdasan Sejak Usia Dini

Peran orangtua pada dasarnya anak-anak sebagai generasi unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka memerlukan lingkungan subur yang sengaja diciptakan untuk itu, yang memungkinkan potensi mereka tumbuh dengan optimal.
Orang tua memegang peranan penting menciptakan lingkungan tersebut guna memotivasi anak agar dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi.
Ini semua dapat dimulai sejak masa bayi. Suasana yang penuh kasih sayang, mau menerima anak apa adanya, menghargai potensi anak, memberi rangsang-rangsang yang kaya untuk segala aspek perkembangan anak, baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, semua merupakan jawaban nyata bagi tumbuhnya generasi unggul dimasa datang.
Memahami anak keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dalam hal memahami anak sebagai individu yang unik, dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satusama lain namunsalingmelengkapidanberharga.Selain memahami bahwa anak merupakan individu yan unik, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan upaya memahami anak,yaitu bahwa anak adalah: anak bukan orang dewasa,anak adalah tetap anak-anak, bukan orang dewasa ukuran mini.

Mereka juga memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak. Untuk itu dalam menghadapi mereka dibutuhkan adanya kesabaran, pengertian serta toleransi yang mendalam.Dunia bermain mereka adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh semangat apabila terkaitdenganpenuhsuasanayangmenyenangkan.

Anak selain tumbuh secara fisik, juga berkembang secara psikologis.Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan ciri-cirimasing-masingfaseperkembangantersebut.
SenangMeniru
Anak-anak pada dasarnya senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru. Orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru.
Kreatif
Anak-anak pada dasarnya adalah kreatif. Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif, misalnya rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya imajinasi tinggi, dan sebagainya. Namun begitu anak masuk sekolah, kreativitas anak pun semakin menurun. Hal ini sering disebabkan karena pengajaran di TK atau SD terlalu menekankan pada cara berfikir konvergen, sementara cara berfikir secara divergen kurang dirangsang. Orang tua dan guru perlu memahami kreativitas yang ada pada diri anak-anak dengan bersikap luwes dan kreatif pula, hendaknya tidak selalu memaksakan kehendaknya terhadap anak-anak namun secara rendah hati mau menerima gagasan-gagasan anak yang mungkin tampak aneh dan tak lazim. Anak-anak yang dihargai cenderung terhindar dari berbagai masalah psikologis serta akan tumbuh dan berkembang lebih optimal.

Mengembangkankecerdasandankreativitas
Menyadari akan arti pentingnya orang tua bagi pengembangan kecerdasan dan kreativitas anak, maka sangat dianjurkan kepada setiap orang tua untuk meluangkan waktu secara teratur bagi putra-putrinya untuk mengembangkan kemampuan bahasa misalnya, biasakan agar orang tua rajin menjalin percakapan dengan si kecil. Ajaklah berdialog dan berilah kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya, sedangkan untuk mengembangkan kemampuan dasar matematika anak dapat diperkenalkan konsep matematika secara sederhana, misalnya menghitung jumlah anak tangga. Sementara untuk memuaskan kebutuhan ilmiahnya, anak bisa diajak menjelajahi dunianya dengan cara melakukan eksperimen, misalnya mengamati tumbuhnya kecambah, proses telur yang menetas dan sebagainya. Kaitkan semua kegiatan diatas sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan dan selalu ditunggu oleh anak. Ini adalah hal-hal yang merangsang pengembangan kecerdasan anak. Banyak dijumpai anak-anak yang memiliki kecerdasan dan kreativitas luar biasa adalah anak-anak yang memiliki hubungan emosional yang dekat dengan orang tuanya. Orang tua John Irving misalnya, menghabiskan waktu berjam-jam bermain dan terlibat secara intelektual bersama John setiap hari, sehingga akhirnya ia menjadi penuis ternama. Begitu pula orang tua Steven Spielberg, tak jemu-jemunya berdialog dan melayani aneka pertanyaan serta rasa ingin tahu Steven, sehingga akhirnya ia menjadi sutradara film terkenal. Tak terkecuali orang tua Thomas Alva Edison memegang peranan penting bagi perkembangannya sehingga ia menjadi seorang penemu ulung.
Rumah yang menunjang kreativitas adalah rumah dimana anak dan orang dewasa yang berada didalamnya terlibat dalam kebiasan kreatif. Aktivitas mendongeng atau membacakan cerita sangat bersemangat untuk merangsang kecerdasan maupun kreativitas anak. Melalui dongeng, anak juga dapat diajak berkomunikasi serta mencoba untuk melontarkan suatu gagasan terhadap pemecahan suatu masalah. Dan melalui dialog batin si kecil dengan dongeng-dongeng yang didengarnya itu, tanpa sadar mereka telah menyerap beberapa sifat positif, sperti keberanian, kejujuran, kehormatan diri, memiliki cita-cita, menyayangi binatang, membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk, dan seterusnya.
Mengembangkan kecerdasan emosional.

Beberapa ahli mengatakan bahwa generasi sekarang cenderung banyak mengalami kesulitan emosional, seperti misalnya mudah merasa kesepian dan pemurung, mudah cemas, mudah bertindak agresif, kurang menghargai sopansantun dan sebagainya, kecerdasan atau angka IQ yang tinggi bukanlah satu-satunya jaminan kesuksesan anak di masa depan. Ada faktor lain yang cukup populer yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini dapat dilatih pada anak-anak sejak usia dini. Salah satu aspeknya adalah kecerdasan sosial, dimana anak memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain serta bertindak bijaksaadalam hubungan antar manusia. Suasana damai dan penuh kasih sayang dalam keluarga, sikap saling menghargai, disiplin dan penuh semangat tidak mudah putus asa, semua ini memungkinkan anak untuk mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan emosionalnya. (by seto mulyadi)

Selasa, 06 April 2010

Ternyata Air Tidak Diciptakan Di Bumi

Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah `Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (QS. Huud: 7)

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS. Al-Mu`minun: 18)

Dalam Al-Qur`an, Allah menyebut kata “air” sebanyak 51 kali. Dan tidak satu ayat pun yang menyatakan bahwa Allah “menciptakan air”, justeru sebanyak 25 ayat menyebutkan bahwa Allah “menurunkan air dari langit”. Ini menunjukkan bahwa air itu tidak diciptakan di bumi. Bahkan ada 4 ayat yang secara tegas menjelaskan bahwa Allah “menurunkan air dari langit kemudian menghidupkan bumi setelah bumi itu mati sebelumnya” dan beberapa ayat lainnya menyatakan bahwa Allah “menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghijaukan bumi dengan sebab air itu”. Hal ini menunjukkan bahwa dahulunya, bumi tidak mengandung air dan kehidupan. Tetapi kemudian Allah menurunkan air dari langit dan menghidupkan bumi.

Saat ini kita telah mengenal suatu teori yang menyatakan bahwa bumi tidak mengandung air pada awalnya. Kemudian ada komet-komet yang mengandung es yang jatuh ke bumi. Komet-komet tersebut bergesekan dengan atmosfer dan menguap menjadi awan. Kemudian dari awan itu turunlah air hujan yang memiliki kemampuan “menghidupkan”. Hingga saat ini, air itu menetap di bumi. Prof. Higa telah meneliti mengenai Effective Micro-organism (EM), suatu mikro-organisme yang mampu “menghidupkan”. Selain air itu memiliki keberkahan, hado positif, energi positif, dan apa pun istilahnya, mungkin EM ini juga salah satu faktor yang menyuburkan atau menghidupkan bumi, yang mana EM ini juga terkandung dalam air yang Allah turunkan dari langit.

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan eksistensi Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (QS. An-Nahl: 65)

Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hajj: 63)

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An-Nur: 45)

Ayat di atas sama sekali tidak mendukung teori evolusi yang bersandar pada atheisme dan “peristiwa kebetulan”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala macam hewan dijadikan oleh Allah dari unsur air. Bahkan manusia, selain ia diciptakan dari air sperma, manusia juga Allah ciptakan dengan 2/3 tubuhnya adalah air. Kita tahu, Al-Qur`an menjelaskan bahwa unsur pembentuk tubuh Adam adalah tanah liat yang tentunya mengandung air, lumpur hitam seperti yang saat ini keluar di Sidoarjo yang juga mengandung air, dan tanah-tanah lainnya yang mengandung air dan mineral lainnya. Dari campuran-campuran tersebut, maka jadilah tubuh Adam yang 2/3-nya adalah air. Kemudian Allah tiupkan roh dari-Nya, maka hiduplah Adam.

Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar. (QS. Ath-Thariq: 6)
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (QS. Al-Mursalat: 20)

KEBERKAHAN AIR

Dari Anas ra berkata: Kami bersama Rasulullah saaw terperangkap hujan. Tiba-tiba Rasulullah saaw melepas bajunya, sampai-sampai beliau basah terkena hujan. Lantas kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat begitu?” Rasulullah saaw menjawab, “Karena hujan ini baru saja datang dari Tuhannya.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Lihatlah bagaimana Rasulullah saaw memandang hujan itu sebagai sesuatu yang mengandung rahmat dan keberkahan dari Allah, sesuatu yang oleh Masaru Emoto dikenal sebagai hado positif. Hado positif ini, selain dapat mempengaruhi kesehatan fisik, juga dapat mempengaruhi kesehatan jiwa seperti dijelaskan dalam Al-Qur`an, dimana air hujan dapat mensucikan hati dan jiwa dari segala penyakit hati dan juga membersihkan diri dari kotoran syaithon.

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu kotoran-kotoran syaithan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (QS. Al-Anfal: 11)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah: 6)

Allah mengajarkan bagi kita yang berhadas agar bersuci dengan air sebelum mendirikan shalat. Karena orang yang berhadas itu sedang dalam keadaan dimana ia kekurangan hado positif. Dengan hado positif dari air wudhu, diharapkan bahwa kita bisa mendapatkan keni’matan ketika sholat berupa akses langsung kepada sumber energi alam semesta, yaitu Allah. Melalui sholat yang khusyu, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat. Satu lagi rahasia Ilahi telah terungkap. Maka bersyukurlah wahai Anda yang telah memeluk Islam, karena Anda telah berada di Jalan Lurus.

Sumber:
Al-Qur`an (2:22,74,164; 4:43; 5:6; 6:99; 7:57; 8:11; 11:7; 13:17; 14:32; 15:22; 16:10,65; 20:53; 21:30; 22:5,63; 23:18; 23:45; 25:48,54; 27:60; 28:23; 29:63; 30:24; 31:10; 30:8; 32:27; 35:27; 39:21; 41:39; 43:11; 47:15; 50:9; 54:12; 56:68,69; 77:20,27; 78:14; 80:25; 86:6)

The Secret Life of Water, Masaru Emoto

Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam

Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam
Posted on 11 Maret, 2010 by artikelislami

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membuat bingung Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

Wallahu a’lam.

Catatan bagi komentator :
- Artikel ini adalah artikel lama.
- Fenomena seperti ini pertama kali ditemukan oleh Mr.Costeau
- Foto-foto di atas diambil oleh seorang penyelam bernama Anatoly Beloshchin baru-baru ini.
- Fenomena bertemunya dua laut tanpa bercampur airnya memang benar adanya seperti tercantum dalam Al-Qur`an. Itulah inti dari artikel ini, terlepas dari convert tidaknya Costeau. Karena walau pun Costeau tidak masuk Islam, di luar sana banyak orang yang masuk Islam. Islam agama yang perkembangannya cukup pesat.
- Memang benar saat ini negara barat lebih maju dari Islam. Karena kejayaan itu memang bergulir. Tetapi ingat, kejayaan barat dalam sains dan lain-lain itu tak lepas dari peristiwa perampasan terhadap ilmu yang ditemukan kaum Muslimin. Ketika orang Kristen menerapkan ilmu tersebut, secara tidak sadar, mereka juga telah mengakui kebenaran ilmu kaum Muslimin di masa lalu yang digali dari Al-Qur`an. Kaum musyrikin Quraisy juga mengakui bahwa Nabi Muhammad itu jujur, hanya saja mereka tidak beriman. Orang Kristen mengakui bahwa ilmuwan Muslim terdahulu itu benar ilmunya yang mereka gali dari Al-Qur`an, tetapi mereka tidak beriman. Itulah kesamaan mereka.

DIarsipkan di bawah: Kemulyaan Al-Qur`an | Ditandai: costeau masuk islam, dinding pembatas antara dua laut, penemu sungai bawah laut masuk islam, penemu sungai dalam laut masuk islam, subhanallah... ada sungai bawah laut, subhanallah... ada sungai dalam laut, tulum mexico cenote angelita, underwater mystery river

Adakah Alkitab Yag Original

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.” (QS. Al-Isra: 2)

Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. Al-Israa: 55)

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30)

Sebagai ummat Islam, kita harus beriman bahwa Allah menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, menurunkan Zabur kepada nabi Daud, dan menurunkan Injil kepada nabi Isa ‘alayhimus salam. Namun saat ini, kitab orisinil dari ketiga kitab tersebut sudah tidak ada lagi. Inilah iman kita.

Ketika kita mengatakan bahwa Taurat, Zabur dan Injil yang ada sekarang tidak lagi orisinil, itu merupakan pernyatan iman yang benar. Tidak originalnya Taurat, Zabur, dan Injil yang ada sekarang ini pun diakui oleh para pakar Kristen.

Dr. R. Soedarmo menyatakan, “Dengan memandang bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan.” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47)

Dr. R. Soedarmo juga menyatakan, “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49)

Dr.G.C Van Niftrik dan Dr. B.J Bolland berkata: “Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta,1967, hal 298).

Dr. Mr D.C Mulder:
“Jadi benarlah Daud itu pengarang Mazmur yang 73 jumlahnya ? Hal itu belum tentu. Sudah beberapa kali kita menjumpai gejala bahasa orang Israel suka menggolongkan karangan-karangan di bawah nama orang yang termasyhur ……. Oleh karena itu tentu tidak mustahil pengumpulan¬pengumpulan mazmur-mazmur itu (atau orang-orang yang hidup lebih kemudian) memakai nama Daud, karena raja itu termasyhur sebagai pengarang mazmur-mazmur. Dengan kata lain perkataan, pemakaian nama Daud, Musa, Salomo itu merupakan tradisi kuno, yang patut diperhatikan, tetapi tradisi itu tidak mengikat” (Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 205).

DR. W. Graham Scroggie dari Institut Alkitab Moody, yaitu salah satu Misi Penyebaran Injil Kristen yang terkenal di dunia, menulis dalam bukunya, “Injil adalah karangan manusia, walaupun demikian ada orang yang terlalu fanatik buta -tanpa berpedoman kepada ilmu pengetahuan- menyangkal kenyataan ini. Kitab-kitab itu telah muncul melalui fikiran manusia, ditulis dalam bahasa manusia, diabadikan dengan tangan-tangan manusia dan memiliki gaya yang menunjukkan karakteristik manusia.”

Injil-injil yang ada sekarang ini bukan lagi Injil yang diturunkan Allah kepada nabi Isa. Injil-injil yang ada sekarang ini adalah Injil menurut Barnabas, Injil menurut Markus, Injil menurut Lukas, Injil menurut Mathius, Injil menurut Yohanes, Injil menurut Andreas, dsb. Artinya, injil-injil yang ada sekarang ini adalah murni karangan manusia. Kalau soal manusia-manusia tersebut mendapatkan inspirasi dari Tuhan, memangnya dari mana para penulis novel mendapatkan inspirasi? Siapa yang memberi saya inspirasi ketika menulis artikel ini?

Alkitab-alkitab dalam bahasa modern yang tersedia sekarang ini (Indonesia, Inggris, Belanda, Jerman, dan lain-lain sebagainya) adalah karya terjemahan. Para penerjemah atau organisasi yang menerbitkan karya terjemahan itu menyatakan bahwa naskah sumber bagi karya terjemahan itu adalah teks kitab suci “berbahasa asli”, yakni Ibrani untuk sebagian besar Perjanjian Lama, Aram untuk sebagian kecil Perjanjian Lama, dan Yunani untuk Perjanjian Baru. Apapun teks kitab suci berbahasa asli Alkitab yang dirujuk sebagai naskah sumber penerjemahan, sesungguhnya teks-teks tersebut bukanlah ‘teks asli’, dalam arti: teks pertama yang berasal dari penulis pertamanya. Sebaliknya, teks-teks berbahasa Ibrani dan Yunani itu adalah hasil upaya para pakar yang telah bekerja keras menemukan kembali teks-teks yang diperhitungkan lebih dekat ke teks ‘asli’. Karena keterbatasan fasilitas penggandaan bahan pada waktu itu, maka teks-teks kuno itu disalin secara ‘tulis tangan’. Setiap teks kuno mempunyai banyak salinan, bahkan salinan dari salinan.

Kita perlu ingat bahwa bahasa asli Injil tidak mungkin berbahasa Yunani. Karena Injil itu diturunkan oleh Allah kepada Nabi Isa untuk diberitakan kepada orang Israel dalam bahasa Yahudi (Ibrani dan Aram).

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 78-79)

Pada zaman itu (kuno), pekerjaan menyalin seperti itu dilakukan oleh penulis professional yang tentu saja diberi upah. Karena saat itu, banyak diantara mereka yang buta huruf. Pada kemudian hari (abad pertengahan), pekerjaan tersebut dilakukan oleh para biarawan. Menyalin, ketika itu, bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat fasilitas penunjang, seperti alat penerangan, meja dan kursi kerja, juga sangat terbatas. Dalam situasi yang sangat tidak menunjang seperti itu, sekalipun barangkali sudah berjuang secara maksimal supaya tidak melakukan kesalahan dalam proses penyalinan, tetap saja yang namanya kekeliruan itu bisa terjadi, sengaja atau tidak. Kekeliruan sengaja terjadi ketika misalnya ketika penyalin bertemu dengan kata atau huruf yang tidak jelas lalu ia harus mengambil keputusan sendiri kira-kira apa sebetulnya kata atau huruf itu. Kekeliruan tidak sengaja terjadi, minsalnya, ketika penyalin secara tidak sadar melewatkan satu huruf, kata, atau bahkan satu frasa. Naskah-naskah salinan yang demikian terbawa terus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika mengingat situasi ini, maka tidak mengherankan jika ditemukan ketidaksamaan antara salinan yang satu dengan salinan yang lainnya untuk satu bagian Alkitab yang sama.

Menurut catatan, untuk naskah-naskah (salinan kitab-kitab) Perjanjian Baru saja, didapati sekitar 250.000 kasus. Dalam bahasa teknisnya, perbedaan seperti ini disebut ‘variants’. Nah, dalam studi naskah kitab suci, dari variants ini diupayakan untuk mencaritahu kira-kira dalam teks aslinya varian mana yang memang ditemukan.

Dengan tehnik kira-kira dan menduga-duga berdasarkan sumber-sumber yang tidak jelas kredibelitasnya, dapatkah kita katakan bahwa Alkitab saat ini adalah suci dari kesalahan? Nyatanya, Alkitab, yang merupakan karangan manusia, disalin oleh manusia, tidaklah suci.

Kalau pun ditemukan kata yang tepat dengan teks aslinya, tetap saja, teks asli tersebut bukanlah teks pertama, melainkan salinan dari salinan. Salinan dari manuskrip apa? Salinan dari manuskrip yang tentu saja dikarang oleh manusia.

Naskah yang ditulis itu bukanlah Taurat, Zabur atau pun Injil yang asli. Tetapi naskah dari Injil menurut fulan, Taurat dan Zabur yang ditulis pada masa pengasingan.

Jauh berbeda dengan Al-Qur`an yang dijaga dengan tehnik hafalan. Nabi mengajarkan kepada shahabat, shahabat meneruskannya kepada shahabat yang jauh, shahabat meneruskannya kepada tabi’in, tabi’in meneruskannya kepada tabi’it tabi’in, tabi’it tabi’in mengajarkannya kepada generasi selanjutnya, dst.

Al-Qur`an telah dijaga sejak zaman Nabi Muhammad dengan tehnik hafalan, tidak semata-mata melalui tulisan. Sedangkan Injil, setelah nabi Isa diangkat ke langit, entah siapa yang menghafalnya. Dengan kekuasaan apa pula para murid itu menghancurkan naskah-naskah palsu karangan manusia yang dianggap sebagai Injil? Tidak ada. Mereak tidak sanggup mencegah peredaran injil-injil karangan manusia tersebut.

Al-Qur`an dijaga sejak zaman Nabi oleh sebagian besar kaum Muslimin. Dijaga keasliannya dalam komunitas yang terpercaya dan punya otoritas untuk melindungi Al-Qur`an dari naskah-naskah palsu.

Sedangkan Taurat, Zabur, dan Injil, semua itu lenyap setelah Nabi Musa dan nabi Daud wafat serta nabi Isa diangkat ke langit. Hal itu disebabkan tidak adanya otoritas terpercaya yang dapat menjaganya. Lalu bagaimana Alkitab yang original itu akan tetap ada hingga saat ini? Akuilah bahwa kita tidak lagi memiliki kitab-kitab asli dari Taurat, Zabur dan Injil.

Jumat, 26 Maret 2010

Keutamaan Tahmid, Tahlil, Tasbih dan Takbir

KEUTAMAAN TAHMID, TAHLIL, TASBIH DAN TAKBIR
فَضْلُ التَّحْمِيْدِ وَ التَّهْلِيْلِ وَ التَّسْبِيْحِ وَ التَّكْبِيْرِ

Rasûlullâh saw bersabda dalam beberapa haditsnya sebagai berikut :

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : (مَنْ قَالَ : [ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمدُ, وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ], فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ, كَنَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ, وَ كُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ, وَ مُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ, وَ كَنَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ, وَ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ
(متفق عليه)

Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Barangsiapa membaca :
lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lahû, lahûl-mulku wa lahûl-hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai-in qadîr
(Tidak ada Tuhan kecuali Allâh Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, baginya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia kuasa atas segala sesuatu)
100 (seratus) kali dalam 1 (satu) hari, maka ia (mendapat pahala) sama dengan memerdekakan 10 (sepuluh) hamba sahaya, dan dia dipastikan akan mendapat (pahala) 100 (seratus) kebaikan dan akan dihapus daripadanya 100 (seratus) kesalahannya serta dia akan dipelihara dari gangguan syaithan pada hari itu hingga sore hari; dan tidaklah seseorang akan mendapatkan yang lebih baik dari itu (keutamaan), melainkan seseorang yang mau mengamalkan lebih banyak lagi”
(Muttafaqun ‘alaihi)

وَ قَالَ : مَنْ قَالَ [ سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ ] فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ, حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَ إِنْ كَنَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَحْرِ
(متفق عليه)

Artinya :
“Dan Nabi saw bersabda : Barangsiapa membaca :
subhânallâhi wa bihamdihî
(Maha Suci Allâh dan dengan memuji-Nya)
100 (seratus) kali dalam 1 (satu) hari, maka akan dihapus dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan ”
(Muttafaqun ‘alaihi)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ, ثَقِيْلَتَانِ فِ الْمِيْزَانِ, حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَانِ : [ سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ ]
(متفق عليه)

Artinya :
“Ada 2 (dua) ucapan/kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allâh yang Maha Pemurah, yaitu : subhânallâhi wa bihamdihî, subhânallâhil-azhîm
(Maha Suci Allâh dan dengan memuji-Nya, Maha Suci Allâh lagi Maha Agung)”
(Muttafaqun ‘alaihi)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : َلأَنْ أَقُوْلَ [ سُبْحَانَ اللهِ, وَ الْحَمْدُ ِللهِ, وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ اللهُ أَكْبَرُ ], أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
(أخرجه مسلم)

Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Sungguh aku lebih senang membaca : Subhânallâhi wal-hamdulillâhi wa lââ ilâha illallâhu wallâhu akbaru daripada terbitnya matahari”
(H.R. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَرْبَعٌ, لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ, [ سُبْحَانَ اللهِ, وَ الْحَمْدُ ِللهِ, وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ اللهُ أَكْبَرُ ]
(خرّجه مسلم)


Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Bacaan yang paling dicintai Allâh Ta’âlâ ada empat, yang tidak salah engkau mulai dari mana saja, yaitu : Subhânallâhi wal-hamdulillâhi wa lââ ilâha illallâhu wallâhu akbaru”
(H.R. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبُ كُلَّ يَومٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ ؟ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ : كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ ؟ قَالَ : يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيْحَةٍ, فَتُكْتَبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ, أَوْ تُحَّطُ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيْئَةٍ
(خرّجه مسلم)

Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Apakah seseorang di antaramu tidak mampu berbuat 1000 (seribu) kebaikan setiap hari ?. Lalu ada seorang dari kawan-kawan duduknya itu bertanya kepada Beliau : Bagaimana seseorang diantara kami ini dapat berbuat 1000 (seribu) kebaikan ?. Rasûlullâh saw menjawab, yaitu : Ia membaca tasbih (Subhânallâh) 100 (seratus) kali, maka baginya akan ditulis 1000 (seribu) kebaikan, atau dihapus daripadanya 1000 (seribu) kelasahannya”
(H.R. Muslim)

عَنْ جُوَيْرِيَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, أَنَّ النَّبِيَّ  خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِيْنَ صَلَّى الصُّبْحَ وَ هِيَ فِي مَسْجِدِهَا, ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَ وَ هِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ : مَ زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا ؟ قَالَتْ : نَعَمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ  : لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلَمَاتٍ, ثَلاَثَ مَرَّاتٍ, لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ : [ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ, سُبْحَانَ اللهِ رِضَى نَفْسِهِ, سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ, سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ ]
(خرّجه مسلم)

Artinya :
“Dari Juwariyah ummul mu’min r.a. : Sesungguhnya Nabi saw pernah keluar dari tempatnya pagi-pagi seusai shalât Subuh sedangkan dia (Juwariyah) berada di tempat shalâtnya. Kemudian Nabi saw kembali sesudah shalât Dhuhâ sedangkan Juwariyah masih tetap duduk (di tempatnya itu). Lalu Nabi saw bertanya : Apakah engkau tetap pada tempatmu itu sejak kutinggalkan tadi ? Juwariyah menjawab : Ya. Lalu Nabi saw bersabda : Sungguh sesudah darimu tadi aku membaca 4 (empat) kalimat sebanyak 3 (tiga) kali, yang andaikata ditimbang dengan apa yang engkau baca (dari tadi) pada hari ini, niscaya akan seimbang, yaitu :
Subhânallâhi ‘adada khalqihî (Maha Suci Allâh sebanyak makhluq-Nya), Subhânallâhi ridhâ nafsihî (Maha Suci Allâh sebanyak yang diridhâi oleh diri-Nya), Subhânallâhi zinata ‘arsyihî (Maha Suci Allâh seberat ‘arsy-Nya), Subhânallâhi midâda kalimatihî (Maha Suci Allâh sepanjang kalimat-Nya)”
(H.R. Muslim)

قَالَ  ِلإَعْرَابِىٍّ : قُلْ [ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِكَ لَهُ, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا, وَ الْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا, وَ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قَوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ ] قَالَ فَهَؤُلآءِ لِرَبِّى, فَمَالِي ؟ قَالَ : قُلْ : [ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي, وَ ارْحَمْنِي, وَ اهْدِنِي, وَ عَافِنِي, وَ ارْزُقْنِي ]
(خرّجه مسلم)

Artinya :
“Nabi saw bersabda kepada seorang ‘Arab Baduwi : Ucapkanlah :
lââ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarika lahû, Allâhu akbar kabirâ, wal-hamdulillâhi katsîrâ, wa subhânallâhi rabbil ‘âlamîn, wa lâ hawla wa lâ quwwata illa billâhi-‘azîzil-hakîm. Si Baduwi itu lalu berkata : Itu semua adalah untuk Rabbku, lalu apa yang untukku ? Nabi saw menjawab : Ucapkanlah :
Allâhummaghfirlî warhamnî wahdinî wa ‘âfinî warzuqnî
(Yâ Allâh yâ Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, tunjukilah aku, lindungilah aku dan berilah aku rizqi)”
(H.R. Muslim)

قَالَ النَّبِيُّ  : لَقِيْتُ إِبْرَاهِيْمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُُمَّتَكَ مِنِى السَّلاَمَ, وَ أَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةٌ التُّرْبَةِ, عَذْبَةُ الْمَاءِ, وَ أَنَّهَا قِيْعَانٌ, وَ أَنَّ غِرَاسَهَا : [ سُبْحَانَ اللهِ, وَ الْحَمْدُ ِللهِ, وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ اللهُ أَكْبَرُ ]
(قال الترمذى : حديث حسن)

Artinya :
“Nabi saw bersabda : Aku pernah bertemu Ibrâhîm pada malam ketila aku di-Isra’-kan. Lalu Ibrâhîm berkata : Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada ummatmu, dan beritahulah mereka, bahwa surga itu adalah tanahnya sangat baik, airnya tawar, dan sesungguhnya surga itu adalah tanah yang penuh dengan ketenangan, tanaman-tanamannya ialah Subhânallâhi wal-hamdulillâhi wa lââ ilâha illallâhu wallâhu akbaru”
(H.R. Tirmidzî dan ia berkata : Hadits ini hasan)

قَالَ النَّبِيُّ  : أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ؟ فَقُلْتُ : بَلَى يَا رَسُولُ اللهِ. قَالَ : قُلْ [ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قَوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ]
(متفق عليه)

Artinya :
“Nabi saw bersabda : Maukah engkau kutunjukkan suatu gudang dari antara gudang-gudang surga ? Aku (shababat) berkata : Mau, yâ Rasûlullâh. Maka Rasûlullâh menjawab, yaitu : lâ hawla wa lâ quwwata illa billâh (tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allâh)”
(Muttafaqun ‘alaihi)

Keutamaan membaca Al-qur'an

Keutamaan Al-Qur’an yang terbesar bahwa ia merupakan kalam Allah SWT. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah. Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori).


Rasulullah SAW selalu membaca Al-Qur’an. Beliau juga suka mendengarkan bacaan dari sahabatnya, khususnya sahabat Ibnu Mas’ud. Beliau berlinang air matanya bila membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, seperti yang dikisahkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud: Suatu ketika Rasulullah SAW meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah saya membacakan untukmu, padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?”. Dijawab nabi SAW: “Saya ingin mendengar dari orang lain”. Ibnu Mas’ud berkata, ”Maka saya bacakan surat An Nisa hingga sampai pada ayat “Fa kaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahidin waji’na bika ’ala ha’ula’i syahiida” (Bagaimanakah jika Kami telah mendatangkan untuk setiap ummat saksinya dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas semua ummat itu). Nabi bersabda, “Cukuplah sampai di sini”. Saya menoleh melihat nabi SAW sedang bercucuran air mata.“ {HR. Bukhori dan Muslim}.


Sahabat Rasulullah SAW juga selalu membaca Al-Qur’an. Ketika mereka menemukan ayat yang berkaitan dengan azab Allah, mereka membacanya berulang-ulang hingga berlinang air mata. Abu Bakar RA, jika beliau menjadi imam ketika sholat, maka akan terdengar isakan tangis beliau. Suatu ketika seorang sahabat ingin ke pasar mendapati Asma binti Abu Bakar membaca salah satu ayat diulang-ulang sambil menangis. Ketika sahabat tersebut kembali dari pasar, ia masih membaca ayat yang sama sambil menangis. Itulah sikap Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur’an. Kita sebagai ummat dan sebagai generasi penerusnya berusaha untuk bersikap seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur’an.

Banyak keutamaan yang telah diraih oleh Rasulullah SAW dan sahabatnya disebabkan mereka banyak membaca dan merenungkan isi kandungan Al-Qur’an. Bahkan diantara sahabat Rasulullah SAW ada yang menyaksikan dan merasakannya secara langsung. Diantara keutamaan membaca Al-Qur’an, yaitu:

Akan mendapat rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)

Al-Qur’an akan menjadi penolong di hari kiamat
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’a) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).

Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim)

Setiap huruf akan mendapat 10 ~ 700 pahala
Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Akan mendapat doa dari para malaikat

Dari Aisyah ra, Raslullah SAW bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhori, Muslim)

Akan mendapat ketenangan

Dari Al Barra bin Azib RA, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada nabi SAW, maka bersabda nabi SAW, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhori dan Muslim).
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template